Animasi



Wednesday, June 1, 2011

Manusia lebih mulia dan lebih tinggi kedudukannya daripada jin.

Manusia  lebih mulia dan lebih tinggi kedudukannya daripada jin. Sehingga  sangatlah jelek dan tercela bila manusia meminta bantuan kepada jin.  Selain itu, bila ternyata yang dimintai bantuannya adalah setan, maka  secara perlahan, setan itu akan menyuruh kepada kemaksiatan dan  penyelisihan terhadap agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jin  tidak mengetahui perkara yang ghaib dan tidak punya kekuatan untuk  memberikan kemudharatan tidak pula mendatangkan kemanfaatan. Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلَمَّا  قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَى مَوْتِهِ إِلاَّ  دَابَّةُ اْلأَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَأَتَهُ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ  الْجِنُّ أَنْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُوْنَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِي  الْعَذَابِ الْمُهِيْنِ
“Maka  tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang  menunjukkan kematiannya itu kepada mereka kecuali rayap yang memakan  tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa  kalau mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam  siksa yang menghinakan.” (Saba`: 14) Jin  tidak memiliki kemampuan untuk menolak mudharat atau memindahkannya.  Jin tidak bisa mentransfer penyakit dari tubuh manusia ke dalam tubuh  binatang. Demikian pula manusia, tidak punya kemampuan untuk itu. Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا  كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ  بِاْلآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ  حَفِيْظٌ. قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُوْنِ اللهِ لاَ  يَمْلِكُوْنَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَوَاتِ وَلاَ فِي اْلأَرْضِ  وَمَا لَهُمْ فِيْهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيْرٍ  
“Dan  tidak adalah kekuasaan Iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar  Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat  dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Rabbmu Maha Memelihara  segala sesuatu. Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai  sesembahan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat  zarrahpun di langit dan di bumi. Dan mereka tidak mempunyai suatu  sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di  antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya’.” (Saba`: 21-22)
Dan dalam hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan itu berjalan di dalam diri anak Adam melalui aliran darah.”Tidak  ada imam kaum muslimin yang mengingkari masuknya jin ke dalam tubuh  orang yang kesurupan. Siapa yang mengingkarinya dan menyatakan bahwa  syariat telah mendustakannya, berarti dia telah mendustakan syariat itu  sendiri. Tidak ada dalil-dalil syar’i yang menolaknya.” (Majmu’ul Fatawa, 24/276-277, diambil dari tulisan Asy-Syaikh Ibnu Baz, Idhahul Haq) Ibnul Qayyim juga telah panjang lebar menerangkan masalah ini.
Bagaimana kita menghindari gangguan-gangguan itu?Ibnu Taimiyah rahimahullahu menjelaskan: “Adapun  orang yang melawan permusuhan jin dengan cara yang adil sebagaimana  Allah dan Rasul-Nya perintahkan, maka dia tidak mendzalimi jin. Bahkan  ia taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam menolong orang yang terdzalimi,  membantu orang yang kesusahan, dan menghilangkan musibah dari orang  yang tertimpanya, dengan cara yang syar’i dan tidak mengandung syirik  serta tidak mengandung kedzaliman terhadap makhluk. Yang seperti ini,  jin tidak akan mengganggunya, mungkin karena jin tahu bahwa dia orang  yang adil atau karena jin tidak mampu mengganggunya. Tapi bila jin itu  dari kalangan yang sangat jahat, bisa jadi dia tetap mengganggunya,  tetapi dia lemah. Untuk yang seperti ini, semestinya ia melindungi diri  dengan membaca ayat Kursi, Al-Falaq, An-Nas (atau bacaan lain yang  semakna, ed), shalat, berdoa, dan semacam itu yang bisa menguatkan iman  dan menjauhkan dari dosa-dosa…”
Mendakwahi JinDakwah  memiliki kedudukan yang sangat agung. Dakwah merupakan bagian dari  kewajiban yang paling penting yang diemban kaum muslimin secara umum dan  para ulama secara lebih khusus. Dakwah merupakan jalan para rasul, di  mana mereka merupakan teladan dalam persoalan yang besar ini. Karena  itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan para ulama untuk  menerangkan kebenaran dengan dalilnya dan menyeru manusia kepadanya.  Sehingga keterangan itu dapat mengeluarkan mereka dari gelapnya  kebodohan, dan mendorong mereka untuk melaksanakan urusan dunia dan  agama sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah Subhanahu wa  Ta’ala. Dakwah  yang diemban Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dakwah yang  universal, tidak terbatas kepada kaum tertentu tetapi untuk seluruh  manusia. Bahkan kaum jin pun menjadi bagian dari sasaran dakwahnya.Al-Qur`an  telah mengabarkan kepada kita bahwa sekelompok kaum jin mendengarkan  Al-Qur`an, sebagaimana tertera dalam surat Al-Ahqaf ayat 29-32. Kemudian  Allah menyuruh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar  memberitahukan yang demikian itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ أُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا  
“Katakanlah  (hai Muhammad): ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin  telah mendengarkan Al-Qur`an, lalu mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami  telah mendengarkan Al-Qur`an yang menakjubkan’,” dan seterusnya. (Lihat Al-Qur`an surat Al-Jin: 1)
Tujuan  dari itu semua adalah agar manusia mengetahui ihwal kaum jin, bahwa  beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada segenap manusia dan  jin. Di dalamnya terdapat petunjuk bagi manusia dan jin serta apa yang  wajib bagi mereka yakni beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,  Rasul-Nya, dan hari akhir. Juga taat kepada Rasul-Nya dan larangan dari  melakukan kesyirikan dengan jin.Jika  jin itu sebagai makhluk hidup, berakal dan dibebani perintah dan  larangan, maka mereka akan mendapatkan pahala dan siksa. Bahkan karena  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun diutus kepada mereka, maka wajib  atas seorang muslim untuk memberlakukan di tengah-tengah mereka seperti  apa yang berlaku di tengah-tengah manusia berupa amar ma’ruf nahi  mungkar dan berdakwah seperti yang telah disyariatkan Allah Subhanahu wa  Ta’ala dan Rasul-Nya. Juga seperti yang telah diserukan dan dilakukan  Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas mereka. Bila mereka menyakiti,  maka hadapilah serangannya seperti saat membendung serangan manusia. 
Mendakwahi  kaum jin tidaklah mengharuskan seseorang untuk terjun menyelami  seluk-beluk alam dan kehidupan mereka, serta bergaul langsung dengannya.  Karena semua ini tidaklah diperintahkan. Sebab, lewat majelis-majelis  ta’lim dan kegiatan dakwah lainnya yang dilakukan di tengah-tengah  manusia berarti juga telah mendakwahi mereka.Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu berkata: “Bisa  jadi ada sebagian orang mengira bahwa para jin itu tidak menghadiri  majelis-majelis ilmu. Ini adalah sangkaan yang keliru. Padahal tidak ada  yang dapat mencegah mereka untuk menghadirinya, kecuali di antaranya  ada yang mengganggu dan ada setan-setan.Maka kita katakan: 
وَقُلْ رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ. وَأَعُوْذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُوْنِ 
“Ya  Rabbku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan  aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabbku, dari kedatangan mereka  kepadaku.” (Al-Mu`minun: 97-98) [lihat Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin] 
ADAB KEPADA ALLAH SWT .
Seorang muslim hendaknya melihat segala sesuatu yang telah diberikan  Allah kepadanya dengan tiada terhingga, yakni berupa nikmat yang tidak  terhitung, terlindungnya dia pada saat menempel di dalam rahim ibunya  ketika berupa nuthfah (air mani), menentukan  perjalanan hidupnya, hingga hari bertemu dengan Rabb-nya azza wa Jalla.  Maka hendaknya ia bersyukur kepada Allah atas nikmat itu dengan  lisannya, yakni memuji dan menyanjung-Nya dengan semestinya. Juga  bersyukur kepada Allah dengan anggota badan, dengan cara menggunakannya  di dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Maka tidaklah punya adab  orang yang mengingkari nikmat, tidak mengakui kelebihan yang diberikan  Allah, mengingkari-Nya beserta kebaikan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah  (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya  kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)

 Juga firman-Nya:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ  
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat  menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun  lagi Maha Penyayang.” (An-Nahl: 18)
 
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula)  kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari  (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152)
Seorang muslim juga hendaknya melihat apa yang dilakukan oleh Allah,  bagaimana Dia memperhatikan seluruh tindak tanduknya sehingga hati akan  dipenuhi dengan keagungan-Nya, jiwanya tunduk dan selalu  mengagungkan-Nya. Maka dia akan takut bermaksiat kepada-Nya, malu untuk menyelisihi perintah-Nya dan keluar dari ketaatan kepada-Nya.  Ini semua merupakan adab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga  tidaklah memiliki adab (kepada-Nya) seorang hamba yang terang-terangan  bermaksiat kepada Rabb-nya, atau menghadap kepada-Nya dengan berbagai  keburukan dan perilaku rendahan padahal Dia menyaksikan dan melihatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;: مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia  sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.”  (Nuh: 13-14) وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ “Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan.”  (An-Nahl: 19)  وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ  وَلا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ  تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي  الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ  “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat  dari Al Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan  Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari  pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di  langit.” (Yunus: 61)
Seorang muslim harus memandang bahwa Allah adalah berkuasa atasnya,  Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya) dan bahwasanya tidak  ada tempat berlindung dan lari dari-Nya kecuali hanya kepada-Nya semata.  Maka hendaknya ia lari menuju Allah, menghambur ke hadapan-Nya,  menyerahkan seluruh urusan hanya kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya. Ini  semua merupakan adab kepada Rabb dan penciptanya.Oleh karena itu, tidaklah beradab jika seseorang lari kepada sesuatu  yang tidak punya tempat pelarian, bersandar kepada yang tidak memiliki  kemampuan apapun serta bertawakkal kepada yang tidak memiliki daya upaya  dan kekuatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;
إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا  
“Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak  ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang  ubun-ubunnya.” (Hud: 56)
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ  
“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku  seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (  Adz-Dzariyat: 50)
  وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ 
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (Al-Maaiidah: 23)
Seorang muslim juga harus melihat kepada kelemahlembutan Allah  kepadanya di dalam setiap urusannya, melihat kepada kasih sayang Allah  kepada dirinya dan seluruh makhluk-Nya, lalu berkeinginan yang kuat  untuk mendapatkan tambahan kelembutan dan kasih sayang itu. Sehingga  dirinya akan selalu merendahkan diri kepada-Nya dengan kerendahan yang  murni dan dengan do’a, bertawasul kepada-Nya dengan perkataan yang baik  dan amal shalih.Ini semua merupakan adab terhadap Allah yang menguasainya, maka  dikatakan tidak memiliki adab orang yang berputus asa dari mencari  tambahan rahmat-Nya, yang luasnya meliputi segala sesuatu, berputus asa  dari kebaikan Allah yang tak terhingga yang mencakup seluruh alam  semesta serta kelembutan-Nya yang tercurah untuk segenap makhluk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ  
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al-A’raaf: 156)
  اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ  
“Allah Maha Lembut terhadap hamba-hambay-Nya.” (Asy-Syura: 19)
وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ  
” Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Yusuf: 87)
  لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ  
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Az-Zumar: 53)
Seorang muslim harus melihat bagaimana dahsyatnya siksaan Rabb-nya,  kerasnya adzab dan kecepatan-Nya di dalam menghitung, sehingga dia  bertakwa (takut) kepada-Nya, menjaga diri terhadap-Nya serta  meninggalkan segala kemaksiatan, maka ini pun merupakan bentuk adab  kepada Allah. Sehingga tidaklah seseorang itu beradab menurut orang yang  berakal apabila ia menentang Allah dan berlaku aniaya (zhalim), padahal  ia seorang hamba yang lemah namun justru menentang Rabb yang Maha  Perkasa dan Kuasa, Maha Kuat dan Perkasa. Dia telah berfirman:
وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
“Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka  tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi  mereka selain Dia.” (Ar-Ra’d: 11)
   وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ
” Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (Ali-’Imran: 4) Seorang muslim harus memandang Allah Azza wa Jalla ketika ia berbuat  maksiat atau keluar dari ketaatan terhadap-Nya, bahwa seakan-akan  ancaman-Nya telah sampai kepadanya, adzab-Nya seakan telah turun, dan  balasan-Nya telah tiba di sekitarnya. Demikian pula ketika dia melakukan  ketaatan dan mengikuti syari’at-Nya maka seakan-akan Allah telah  membuktikan janji-Nya kepadanya.  Seolah-olah keridhaan-Nya telah  diberikan, sehingga dengan itu jadilah ia seorang muslim yang berbaik  sangka kepada Allah. Dan baik sangka (husnuzh zhan) kepada Allah  merupakan salah satu adab seorang muslim kepada Allah. Maka bukan  merupakan adab kepada Allah jika seorangb muslim berburuk sangka (su’uzh  zhan) kepada-Nya, sehingga dia keluar dari ketaatan kepada-Nya, mengira  bahwa Allah tidak memperhatikannya serta tidak akan memberikan balasan  atas dosa yang dia kerjakan itu, padahal Allah telah berfirman:
  وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ  اللَّهَ لا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ  الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ  الْخَاسِرِينَ  
“Bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa  yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah  kamu sangka terhadap Tuhanmu, prasangka itu telah membinasakan kamu,  maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Fushshilat: 22-23)
Juga bukan merupakan adab kepada Allah jika seseorang bertakwa kepada  Allah dan mentaatinya namun berprasangka bahwa Allah tidak akan  memberikan balasan kepadanya atas amal baik yang telah dia kerjakan itu  dan tidak memberikan pahala terhadap ketaatan dan ibadahnya, padahal  Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman;
  وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ ” Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut  kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang  yang mendapat kemenangan.” (An-Nuur: 52) مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ  فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ  بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun  perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan  kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan  kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka  kerjakan.” (An-Nahl: 97) مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ  جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلا مِثْلَهَا وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ “Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh  kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat  maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya,  sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al-An’aam: 160) Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa syukurnya seorang muslim  kepada Rabb-nya atas nikmat yang diberikan, rasa malu kepada-Nya untuk  condong berbuat maksiat, kembali kepada-Nya secara benar, bertawakkal  kepada-Nya serta mengharap rahmat-Nya, kemudian takut terhadap  siksa-Nya, berbaik sangka kepada-Nya akan kebenaran janji-Nya serta  pelaksanaan ancaman bagi siapa yang dikehendaki di antara  hamba-hamba-Nya, maka ini semua merupakan adab-adab terhadap Allah  Subhanahu wa Ta’ala. Semakin tinggi tingkat tamassuk (berpegang teguh) dengan adab ini dan  semakin seseorang menjaganya, maka dia akan semakin tinggi derajatnya,  makin naik kedudukannya dan terus menanjak posisinya, serta kemuliaannya  semakin besar sehingga jadilah dia termasuk di antara orang-orang yang  berada dalam wilayah (cinta dan pembelaan) Allah, dalam  pemeliharaan-Nya, diliputi rahmat-Nya, serta berhak mendapatkan  kenikmatan-kenikmatan dari Allah.Inilah yang senantiasa didambakan oleh seorang muslim dan yang menjadi angan-angannya sepanjang hidup.Ya Allah, berikanlah kepada kami cinta dan pembelaan-Mu, janganlah  Engkau halangi kami dari penjagaan-Mu, dan jadikanlah kami semua di  sisi-Mu sebagai al-muqarrabin (orang yang dekat dengan-Mu), ya Allah ya  Rabb seru sekalian alam
.عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ ».
Dari Tsauban, ia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wasallam bersabda, 'Sesungguhnya yang aku takuti (bahayanya) atas umatku  hanyalah imam-imam/ pemimpin-pemimpin yang menyesatkan'." (H.R  Ahmad, rijalnya tsiqot–terpercaya menurut Al-Haitsami, juga dikeluarkan  oleh Abu Daud, Ad-Darimi, dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits Shahih.  Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah berkata, isnadnya shahih atas  syarat Muslim). Siapakah imam-imam yang menyesatkan (aimmah mudhillin) itu? Imam Al-Munawi dalam kitabnya, At-Taisir bisyarhil Jami’is Shaghir  menjelaskan,    Imam-imam yang menyesatkan (al-Aimmah al-mudhillin) artinya  seburuk-buruk pemimpin, yang menyimpang dari kebenaran dan  menyelewengkan kebenaran.  Sementara itu Al-Mubarokafuri menjelaskan, Imam-imam yang  menyesatkan, artinya penyeru-penyeru kepada bid’ah-bid’ah, kefasikan  (pelanggaran-pelanggaran) dan fujur (kejahatan-kejahatan).  (Al-Mubarokafuri, Tuhfatul Ahwadzi, syarah Jami’ At-Tirmidzi juz 6  halaman 401).  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sangat khawatir terhadap pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. Namun kenapa kadang di antara penerus yang mewarisi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam justru membiarkan tokoh sesat menyesatkan merajalela. Mereka mencontohi  untuk mencampur adukkan antara yang haq dengan yang batil, bahkan  kebatilannya itu sudah menyangkut masalah yang paling prinsipil yakni  aqidah/keyakinan alias keimanan. Mereka mencontohi untuk meremehkan  keimanan, hingga mengikuti perayaan atau hari-hari besar orang kafir  seperti natalan, tahun baru Masehi (Januari) dan bahkan mengada-adakan  upacara kemusyrikan (dosa terbesar dan tak diampuni bila ketika hidup  tidak bertaubat) seperti larung laut (bersesaji untuk syetan laut),  ruwatan (bersesaji untuk syetan dinamai raksasa Betoro Kolo) dan  sebagainya.  kenyataan di sini, yang tampak adalah tidak seperti sikap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda:
إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِى الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ .
“Sesungguhnya yang aku takuti (bahayanya) atas umatku hanyalah imam-imam/pemimpin-pemimpin yang menyesatkan.” Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ
"Sesungguhnya yang paling aku takuti dari ummatku adalah setiap orang munafiq yang pandai bersilat lidah." (HR. Ahmad dan Ibnu Bathah dalam Al-Ibanah, shahih sanadnya menurut Al-Albani dalam Silisilah Shahihah nomor 1013).
Setiap orang munafiq yang  pandai bicara, telah sangat dikhawatirkan bahayanya terhadap Ummat Islam  ini. Bagaimana pula apabila munafiq-munafiq yang pandai bicara itu  banyak, lalu diberi kesempatan banyak pula oleh media massa untuk  menyampaikan hal-hal yang sangat berbahaya bagi Ummat Islam. Dan  bagaimana pula bila mereka itu berkomplot dengan aimmah mudhillin tersebut? Benarlah kekhawatiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bahaya dua kelompok orang itu, yaitu pemimpin-pemimpin yang  menyesatkan, dan orang-orang munafiq yang pandai bicara itu.Jama’ah Jumu’ah rahimakumullah, bagaimana pula kalau keadaannya seperti berikut ini:Para pemimpin sebagian mereka justru ketika menjadi pemimpin,  sebelumnya melalui praktek-praktek permohonan ke dukun-dukun bahkan ke  kubur-kubur yang kalau meminta kepada isi kubur justru merupakan  perbuatan kemusyrikan, dosa paling besar.Lalu ketika memimpin mendapat bisikan dari orang-orang munafik yang pandai bicara.Sementara itu masyarakat yang dipimpin rata-rata awam agama.Masih pula ada di antara pemimpin yang tampaknya menyemarakkan  agama, namun kalau dicocokkan dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah dengan cara  pemahaman yang sesuai dengan cara para sahabat, tabi’ien dan tabi’et  tabi’ien serta para ulama yang mengikuti jalannya, ternyata jauh  menyimpang.Sehingga Ummat Islam ini secara intern telah dikeroyok aqidahnya  (keyakinannya) ditarik ke sana-sini yang tidak sesuai dengan aqidah  Islam yang benar.Ketika Ummat Islam aqidahnya  sudah tercabik-cabik akibat keawaman mereka dalam agama, sedang  himpitan kebutuhan hidup yang mendera mereka semakin mencengkeram, atau  ketika gaya hidup pun telah dirusak oleh aneka pihak hingga tidak  tersisa lagi tawakkalnya kepada Allah Ta’ala, tinggal memburu  nafsu bahkan cenderung menjadi hedonis, memburu nafsu untuk keni’matan  pribadi; maka mereka mengejar kenikmatan dengan cara menjauhi aturan  dari Allah Ta’ala.    Mereka mencari jalan pintas, tidak jauh-jauh, larinya adalah ke  dukun-dukun (dengan aneka sebutannya tapi pada dasarnya dukun-dukun  juga), dan juga ke tempat-tempat yang dikeramatkan, di antaranya  kuburan-kuburan yang dianggap keramat. Maka ramailah kuburan-kuburan  keramat di mana-mana dengan pengunjung yang dari mana-mana pula.Celakanya lagi, tempat-tempat itu justru dipiara dan dijadikan lahan  bisnis oleh aneka pihak. Sehingga sesuatu yang aslinya sangat  membahayakan aqidah bahkan menjerumuskan ke neraka karena meminta kepada  selain Allah bila memintanya kepada isi kubur itu, justru dianggap  sebagai “tambang emas” yang perlu dijaga, dilestarikan dan dibudi  dayakan   Dalam kondisi yang seperti ini, sebenarnya manusia ini terutama para  pemimpin telah diingatkan dengan sangat tegas, jangan sampai ada  pengkhianatan amanah. Sedangkan pengkhianatan amanah yang paling besar  adalah ketika aqidah Ummat Islam yang seharusnya tetap dijaga ini justru  didesak menuju kepada kemusyrikan. Yang hal itu telah disebut dalam  ayat, 
وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة
dan fitnah (kemusyrikan) itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS. Al-Baqarah [2] : 191). Jama’ah Jumu’ah rahimakumullah, ketika yang diberi amanah  justru membiarkan adanya masalah ini berlangsung, maka ancaman dahsyat  telah ditegaskan. Ancaman yang sangat berat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut:
مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan,  namun dia tidak menindaklanjutinya dengan jujur, kecuali tak bakalan  mendapat bau surga.” (HR. Al-Bukhari No. 6617)
مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas  dia meninggal dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah mengharamkan  surga baginya.” (HR. Al-Bukhari- 6618)
Tinggal pertanyaannya, apakah ketika para pemimpin banyak yang  menyesatkan, sedang munafiqin banyak pula yang pandai bersilat lidah,  dan Ummat Islam kebanyakan adalah orang-orang yang awam agama, masih kah  tersisa lagi orang-orang yang akan menegakkan Islam ini? Seandainya  ada, bukankah ejekan, hinaan dan celaan bahkan tuduhan dan serangan akan  menderanya? Ternyata Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan:
وَلَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى  الْحَقِّ ظَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ  أَمْرُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (رواه أحمد) تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده  صحيح على شرط مسلم
"Dan sekelompok dari ummatku akan senantiasa di atas kebenaran  dan menang. Orang yang menentang mereka sama sekali tidak membahayakan  mereka hingga keputusan Allah 'Azza wajalla datang." (HR. Ahmad, sanadnya shahih atas syarat Muslim kata Syaih Syu’aib Al-Arnauth).

No comments: